Aku mendesah pelan, dan tersenyum sendiri. Bokep Montok Dia bukanlah seorang bisa dijadikan contoh dan dibanggakan oleh anak-anaknya. Aku diterima di perguruan negeri paling bergengsi di Indonesia. Aku sangat marah saat itu. Tentu saja orang akan “hormat” di depan dia. Walaupun demikian, aku tetap punya prinsip. Aku sempat marah padanya dan kutantang dia berkelahi. Aku kenal dia pertama kali waktu aku jalan-jalan di Cihampelas. Tak jarang pula aku harus menerima hajaran dari ayahku kalau aku berusaha melindungi ibuku. Kuhampiri dia dan kupeluk dari belakang. Dia sangat sabar dan dia pula yang membuatku untuk mulai “bertobat” dari segala kenakalanku. Dengan mudah aku dikalahkannya dan aku dilumpuhkan hanya dengan 2 kali totokan 2 jarinya. Aku sadar dan bisa mengerti. Aku hanya dibiayai untuk semester pertama, selanjutnya, aku harus membiayai hidupku sendiri.




















