Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun tak mau kalah. Aku tidak percaya dengan telingaku sendiri. Bokeb Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan area paling sensitif itu. Aku lebih memperhatikan gerak bibirnya dari belakang sambil menikmati kecantikannya parasnya. Aku anggap saat ini sebagai sebuah mimpi, so, its free to me to speak up!!! tiba-tiba Bu Chintya sudah muncul lagi membuyarkan lamunanku. “Dhimas Perdana, 04XXXXX, betul kan?” katanya sambil membuka file pekerjaanku, dan aku pun mengangguk meng-iya-kan. Ahh,, ternyata Bu Chintya yang kami puja selama ini tidak hanya pintar dan cantik, beliau sangat sempurna seutuhnya, sangat terawat. Itu juga kalau kamu SMUnya lancar.” “eh, saya SMUnya malah cuma 2 tahun bu”, jawabku berkelakar “jangan panggil aku Ibu,,, thats the point.” ujarnya kemudian “you can call me chintya, atau teman-teman dekatku biasa memanggil cinta” “eh, begitu ya cin,,” sahutku










