Tak heran, ini sudah pukul setengah satu pagi, dan menjelang hari raya, nyaris semua orang pergi berlibur. Setidaknya cukup untuk menghabiskan sore sambil membaca novel.”
Ia bangkit berdiri dan melangkah menghampiri stereo-set di celah rak buku. Nobokep Berantakan. Aku mundur selangkah, berusaha menghindarinya daripada melakukan hal yang tak pernah kusukai saat menyaksikan film-film blue atau mendengar cerita teman-temanku- bahkan membayangkan melakukannya saja selama ini membuatku ingin muntah. Tapi tidak ada. “Dingin kalau bisa.”
Saat aku kembali dengan dua gelas air dingin, kulihat ia sudah membuat dirinya nyaman di ujung sofa L. Aku merasa malu sendiri. Aku tak punya alamat, tak punya nomor telepon yang bisa kuhubungi untuk mencapainya. Tanpa sadar aku mengerang saat jemarinya menempel di selangkanganku.




















